AGAMA DAN PENDIRI AGAMA
Isi dalam Alkitab ini menyatakan kehendak siapa? Apakah sebenarnya agama? Siapakah sebenarnya pendiri agamanya? Mengapa tidak dapat memahami arti yang benar mengenai Firman Alkitab dengan pengetahuan duniawi. Apa bedanya di antara jemaat yang beriman dan tidak beriman?
Jika demikian, siapakah yang membuat agama?
Agama itu dijadikan oleh roh kudus. Buktinya tertulis dalam Yohanes 1:1-2. Di samping itu, tuan agama adalah Allah Sang Pencipta. Hal ini sama seperti gereja Katolik disebut sebagai agama yang pendiri agamanya Bapa di adalah Tuhan. Jika seseorang yang beragama disebut sebagai pendiri agama, maka hal tersebut merupakan hal yang ilegal dan tersesat. Gereja baru maupun geraja tradisional, pendeta gerejanya tidak mungkin menjadi pendiri agama. Agama Kristen berarti Tuhan Yesus menjadi pendiri agama. Agama Katolik berarti Tuhan menjadi pendiri agamanya.
Bidaah memakai sebutan pendiri agama untuk menganiaya lawannya. Padahal orang yang memakai sebutan itu sebenarnya menyatakan bahwa dia sendiri adalah bidaah dan orang yang beraliran tersesat.
Pada umpamanya seseorang diberi tugas untuk menjaga ladang anggur. Tetapi dia bukan pemiliknya. Nama 'Gereja OO atas nama Yesus, Korea Selatan' itu menyatakan bahwa pendiri agamanya adalah Yesus. Meski demikian, jika ada yang menyebutkan pendeta gerejanya sebagai pendiri agamanya, maka dia adalah orang beraliran tersesat. Sebutan benar terhadap para pelayan gereja adalah ketua jemaat, pendeta, tua-tua gereja, nama sendiri dan sebagainya. Gereja dan para jemaat harus mentaati kehendak Tuhan. Inilah keberimanan yang benar.
Meskipun seseorang sudah memiliki banyak pengetahuan ilmiah, itu tidak berarti bahwa dia pasti sanggup menyadari arti firman yang sebenarnya dalam Alkitab. Nubuat Tuhan diwujudkan oleh Tuhan. Kemudian, hal-hal yang terwujudkan itu diberitahukan.
Isi Alkitab tergolong sejarah, moral, nubuat, yang terwujudkan, dan lain-lain. Nubuat di antaranya akan terwujudkan pada suatu masa nanti.
Aku memberitahukan itu kepadamu sekarang, sebelum semuanya terjadi, supaya kalau terjadi nanti, kalian akan percaya (Yoh. 14:29).